Oleh: Rahmat Hidayat Nasution | Maret 16, 2008

Kiat Jitu Praktik Marketing Rasulullah

Judul : Marketing Muhammad: Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad saw

Penulis : Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo

Penerbit : Madania Prima, Bandung 2007

Tebal : Xii + 157 halaman

Sudah menjadi rutinitas, bahwa setiap tanggal 12 Rabiul Awal umat Islam memperingati hari kelahiran Rasulullah Saw. Rutinitas itu acapkali ‘dihiasi’ dengan mengenang beragam peristiwa yang terjadi di masa kelahiran Nabi Muhammad Saw. hingga masa ‘kegemilangannya’ menjadi rasul Allah. Agaknya, di antara peristiwa yang urgen untuk direnungkan dan dijadikan pelajaran, saat ini, adalah mempelajari bagaimana praktik bisnis Muhammad Saw. disaat muda atau ketika ia belum diangkat menjadi rasul Allah. Pasalnya, trend berbisnis saat ini kian marak dan kian meningkat.

Menurut literatur sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw. sejak kecil sudah membiasakan diri untuk hidup mandiri dan berwirausaha, yang diawali dengan mengembala kambing milik Bani Sa’ad. Kemandiriannya muncul bukan karena ia miskin. Sejatinya, Muhammad Saw. hidup ditengah keluarga yang berkecukupan. Bahkan, keluarga ayahnya terkenal sebagai pembesar suku Quraisy, sehingga tidak diragukan lagi kesejahteran hidupnya.

Setelah sukses berniaga di negara sendiri, pada usia dua puluh lima tahun Muhammad ingin membuktikan bahwa ia bukan hanya ‘jago’ berbisnis di daerah sendiri, tapi juga dapat berbisnis diberbagai negara. Riwayat bisnis itu dimulai tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan, kredibilitas dan kemulian akhlaknya. Hingga Khadijah pun mengirim utusan dan menawarkan Muhammad bin Abdullah agar berangkat ke Syam (baca; Syria dan Libanon) untuk memasarkan barang dagangannya.Launching Buku Marketing Muhammad

Brand image muhammad yang memiliki akhlak mulia, jujur dan terpercaya menjadi ‘sinyal’ kuat untuk menjustifikasikan bahwa ia adalah pebisnis sukses yang belum pernah dicapai manusia sebelum dan sesudahnya. Buku “Marketing Muhammad: Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad saw” akan membuktikan bahwa aneka teori kesuksesan marketing yang dicetuskan Barat, sejatinya sudah dilakoni Muhammad saw. Bahkan, buku ini juga dapat dikatakan sebagai kritikan untuk buku “The Corporate Mystic” yang dikarang Gay Hendriks dan Kate Ludeman, yang menyatakan bahwa para pengusaha sangat penting untuk menjauhkan dirinya dari teologi dan kepercayaan spritualisme yang sangat berpotensi memecah belah, dan hanya boleh memetik manfaatnya, jika dijamin menguntungkan dan terpadu dengan teori-teori yang ada.

Penulis buku ini, Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, membagi isi buku menjadi lima bagian: mind share, market share, heart share, shoul share dan shoul marketing. Kelima bagian ini merupakan teori umum dalam dunia marketing untuk memasarkan produk. Akan semakin membuat takjub, ternyata teori-teori yang selalu digemborkan Barat sudah lebih dahulu direalisasikan Muhammad Saw.. Strategi mind share misalnya. Dalam strategi ini tercakup proses segmenting (cara membagi pasar berdasarkan variabel-variabel yang ada seperti geografi, prilaku dll), targeting (proses pemilihan target dan mencocokkan reaksi pasar dengan kebutuhan dasar) dan positioning (langkah menempatkan produk dalam benak customer).

Dalam musnad Ahmad dicatat, bahwa Muhammad saw. pernah memasarkan market Khadijah di komunitas penduduk Bahrain, tepatnya di pasar Mushaqqar. Yang cukup menarik, kebiasaan Muhammad sebelum melakukan segmentasi, ia terlebih dahulu mengenal market, sehingga mendapatkan detail konsumen yang diperlukan untuk melakukan proses segmentasi. Pola pikirnya yang menginspirasikan one on one marketing, jelas merupakan hal yang sangat mudah untuk memasarkan produk. Ia tidak hanya akan dapat menjual, tetapi juga dapat mendekatkan diri dengan konsumen. Hingga akhirnya ia dapat menggali hal-hal yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Dalam proses targeting, Muhammad menggunakan sistem one brand for all. Yaitu, denga menggunakan sifat al-‘amin (jujur) sebagai piranti sistem one on one marketing hingga ia mampu menyentuh individu konsumen. Ia tidak hanya berbisnis dengan kalangan raja tetapi juga dengan rakyat biasa. Dan dengan menggabungkan dua sistem di atas, Muhammad dengan mudah menentukan positioning. Ia tidak pernah mengalami pertengkaran dan perdebatan dengan konsumen dalam menentukan harga, bahkan konsumen kian percaya saat ia selalu tepat janji dalam mengantar barang-barang yang kualitasnya telah disepakati antara keduanya. Akhirnya, produk yang ingin dipasarkan benar-benar ‘terpotret’ dalam benak customer dan tak ada rasa kecewa sedikitpun. Bukan hanya itu, ketagihan konsumen untuk membeli market yang dijualnya pun kian meningkat.

Intinya, penulis ingin ‘menyematkan’ di benak pembaca, bahwa ada lima konsep yang diajarkan Rasulullah dalam melakukan bisnis: jujur, ikhlas, profesional, silaturrahmi dan murah hati. Apabila kelima konsep tersebut diaplikasikan akan melahirkan kepercayaan. Karena sebuah hubungan silaturrahmi yang dilandasi sikap murah hati oleh seorang profesional yang jujur dan ikhlas akan menghasilkan Trust (kepercayaan). Kalau sudah trust, loyalitas akan terlahir dengan sendirinya.

Selain itu, point lain yang didapat dari buku ini. Penulis sengaja memperkenalkan kehebatan, kekurangan dan bahkan kesalahan konsep yang dilakukan beberapa perusahan di dunia untuk menarik simpati customer. Misalnya perang tarif murah telepon dan sms yang terjadi antar operator telepon seluler di Indonesia. Menurut penilaian penulis, keterlibatan dalam fenomena perang tersebut menunjukkan kurang profesionalnya perusahaan. Karena customer bukanlah masyarakat yang buta dengan dunia perdagangan. Sudah pasti yang akan dipilih dan dicari pelanggan tetaplah yang dapat memberikan dan menjamin kenyamanan dalam berkomunikasi juga memiliki jaringan luas. Bahkan kepercayaan dan profesionalisme perusahaan yang menjadi operator tetap menjadi point utama customer. Dapat diteliti, bahwa customer yang tergiur dengan tarif murah operator hanyalah masyarakat kecil, yang sejatinya tidak begitu memberikan ‘untung’ banyak bagi perusahaan. Adalah lazim yang diincar pebisnis marketing, bagaimana membuat pelanggang semakin sering menggunakan jasa dan market. Bukan malah membuat perusahan kian terpuruk dikarenakan tak mampu mendapatkan target yang diharapkan.

Maka tak salah, bila Uken Juneidi, S.E. Ak, President Business Development Salamadani, memberi komentar terhadap kecerdasan penulis yang berhasil memaparkan strategi Rasulullah Saw. dalam dunia pemasaran, yang juga dilengkapi dengan kajian bagaimana pemasaran dilakukan dengan dasar akhlak yang baik dan strategi yang jitu. Maka, buku Martekting Muhammad Saw. ini sangat penting untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama yang memiliki jiwa dagang. Insya Allah dengan membaca buku ini akan memberikan pencerahan bagaimana berbisnis yang sehat, halal dan baik.

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc., alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Fakultas Syariah Wal Qonun, Jurusan Syariah Islamiyah (2007)

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution | Maret 15, 2008

Mengenal Surga Adam

Judul Buku : Adam Tak Diusir dari Surga
Penulis : Agus Mustofa
Penerbit : Padma Press, Surabaya
Tahun terbit : Agustus 2007
Tebal buku : 256 halaman

Setelah bukunya yang berjudul “Ternyata Adam Dilahirkan” mendapat respon dari kalangan pembaca. Kini, Agus Mustofa kembali mengarang buku yang masih bertemakan Nabi Adam as. dengan judul “Adam Tak Diusir Dari Surga”. Dan dengan terbitnya buku ini, Agus Mustofa kian jelas, kian menggugah dan kian berani menampilkan sosoknya: sebagi hamba Allah yang ingin serius “berkonsentrasi” meraih cinta Rabb-nya dengan murni dan sebagai manusia yang ingin membuktikan bahwa ilmu tasawuf dapat dipadukan dengan sains. Hingga ikhtiarnya itu pun, ternyata, membuahkan hasil pemikiran baru yang diberinya nama dengan “Tasawuf Modern atau Pendekatan Tasawuf dalam Kekinian”.
Buku yang dicetak bulan Agustus 2007 ini, dapat dikatakan sebagai tanggapan terhadap penilaian masyarakat yang acapkali mensinyalir bahwa buah khuldi menjadi biang keladi turunnya Adam dan Hawa dari surga. Padahal Allah, di dalam al-Qur’an, tidak menyebut buah khuldi secara eksplisit dan hanya menyebutkan pohon tersebut sepintas lalu, tanpa menyebutkan nama. Bahkan, yang menamakan buah khuldi (buah keabadian) sendiri justru muncul dari istilah Iblis ketika merayu Adam dan Hawa untuk memakannya. Itu pun tidak secara eksplisit menyebut buah, melainkan disebut dengan syajaratul khuldi alias ‘pohon keabadian’.

Selain itu, buku ini juga akan memaparkan beberapa masalah yang masih menjadi kontroversi ‘hangat’ tentang Adam as. dan turunnya dari surga. Di antaranya, ketidakbenaran Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam; kenapa Iblis dilibatkan untuk bersujud kepada Adam, padahal dia bukanlah dari golongan malaikat; Adam dan Hawa bukanlah tinggal di surga yang disediakan Allah bagi orang-orang yang beriman di akhirat kelak.

Penciptaan Hawa
Cerita penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam hanya ‘terungkap’ di dalam hadits Nabi Saw. Tapi, jika dicari sumber ayatnya di dalam al-Qur’an yang mengupas perihal diciptakan dari tulang rusuk Adam, mungkin, hanya mengarah kapada ayat-ayat yang bercerita tentang ‘diri yang satu’. Sedangkan penyebutan Hawa sebagai nama isteri Adam as. secara jelas, nyaris tidak disebutkan di dalam al-Qur’an. Menurut Agus Mustofa, pengarang buku ini, untuk menemukan apakah benar Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, haruslah diawali dengan pengumpulan dan pembacaan ayat-ayat al-Qur’an mengenai Adam dan isterinya, Hawa, secara kholistik.

Di dalam al-Qur’an, kata Agus Mustofa, Allah bercerita terlebih dahulu tentang Adam, para malaikat dan Iblis. Adapun Hawa, sebagai isteri Adam belum disebut-sebut. Bahkan sampai ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam pun, keberadaan Hawa belum disebut. Keberadaan Hawa baru mulai disinggung ketika Allah memerintahkan Adam tinggal di surga, yaitu setelah memperoleh pengakuan dari para malaikat dan setelah dibangkang oleh Iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam. Karena itu, sangat dituntut untuk menganalisa dengan jeli tentang ayat-ayat yang bercerita tentang nafsuun wahidah (diri yang satu) dengan cerita tinggalnya Adam dan Hawa di dalam surga.

Ayat yang selalu digunakan sebagai klaim bahwa Hawa diciptakan dari diri Adam as. adalah surat al-A’raaf: 189. Namun, menurut Agus Mustofa, ayat tersebut akan rancu jika dipahamkan sebagai penciptaan Hawa dari diri Adam as. ketika dilanjutkan dengan memahami ayat setelahnya. “Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan (Qs. Al A’raaf: 190). Hal ini akan menyebabkan lahirnya pertanyaan baru, benarkah suami isteri itu adalah Adam dan Hawa? Benarkah mereka berdoa untuk memperoleh keturunan yang sempurna, dan setelah dikabulkan mereka mempersekutukan Allah? Nyaris tak ada satu keterangan pun yang mensinyalir bahwa pasangan suami isteri yang menyekutukan Allah itu adalah Adam dan Hawa.

Sedangkan menurut sains, “diri yang satu” adalah stem sel, yang kemudian membelah dan membentuk proses penciptaan manusia di dalam rahim. Sehingga, Agus Mustofa menyimpulkan bahwa distorsi pemahaman tentang hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam itu agaknya terkait dengan asal-usul stem sel yang terpancar dari tulang sulbi. Tapi, tetaplah bahwa Hawa bukan diciptakan dari diri Adam alias dari tulang rusuk Adam. Lantas, bagaimana penciptaan Hawa dan siapa orang tuanya? Dalam buku ini, Agus Mustofa menguraikannya dengan jelas.(hal. 65-75)

Iblis Bukan Malaikat
Setelah Allah membuktikan kecerdasaan Adam dengan diberi ilmu pengetauhan dan mudah menguasainya, Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan kepada seorang khalifah (Qs. Al-Baqarah 34). Namun, ada kejadian menarik dalam peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam yaitu, pembangkangan Iblis. Ayat ini menimbulkan peristiwa terkesan agak ‘aneh’. Karena tidak ada perintah langsung dari Allah kepada Iblis untuk bersujud, tapi di dalam ayat-ayat selanjutnya selalu dikatakan bahwa Iblis tidak mau bersujud dan dinobatkan sebagai pembangkang. Apakah Iblis termasuk golongan malaikat? Menurut Agus Mustofa dalam buku ini, ayat-ayat ‘perintah dan pembangkangan’ tersebut memberikan makna tersirat bahwa Iblis memang bukan malaikat. Karena itu, ia tidak termasuk yang diperintahkan Allah secara langsung untuk bersujud. Ia hanya diperintahkan secara tidak langsung, sebagaimana mahluk lainnya. (hal 121-124)

Mengenal Surga Adam
Di dalam al-Qur’an, Allah menceritakan bahwa Adam dan Hawa tinggal di dalam surga. Setelah mereka terbujuk rayuan Iblis, baru mereka disuruh turun ke bumi. Menurut pendapat mayoritas, bahwa surga yang dulu dihuni oleh Adam as. dan isterinya adalah surga yang kelak akan dirasakan kembali oleh orang-orang yang beriman di akhirat kelak. Namun Agus Mustofa berpendapat lain. Menurutnya, surga yang dihuni Adam as bukanlah surga yang akan dinikmati orang-orang yang beriman di akhirat kelak. Jannah (surga) Adam berbeda dengan jannah (surga) yang dijanjikan Allah untuk orang beriman. Di dalam buku ini, Agus Mustofa menjelaskan ada 4 hal yang membedakan jannah (surga) Nabi Adam as dengan jannah (surga) yang dijanjikan Allah kepada para hambanya yang beriman:

1. Kata jannah tidak selamanya hanya memiliki arti surga. Jannah juga dapat diartikan sebagai taman. Karena Allah seringkali menggunakan kata jannah untuk menggambarkan situasi yang penuh kenikmatan, seperti dalam surat al-Qalam: 17, “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (orang kafir Mekah) sebagaimana kami telah menguji pemilik-pemilik kebun (jannah), ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasilnya) di pagi hari”. Karena itu, Agus Mustofa berpendapat bahwa pemakaian kata jannah sangat berkaitan dengan situasi wilayah Timur Tengah yang sangat panas, gersang dan sulit air. Sehingga kata ‘taman’ sangat mewakili.

2. Kata jannah yang digunakan untuk peristiwa nabi Adam di dalam al-Qur’an hanya dimaknai dengan ‘taman’ yang dilengkapi makanan yang serba berkecukupan untuk kebutuhan hidup. Sedangkan jannah akhirat digambarkan lebih komplek lagi. Misalnya, surga di akhirat nanti ada bidadari, sedangkan yang di jaman nabi Adam tidak ada. Surga di akhirat nanti digambarkan ada minuman dari sungai madu, susu, khamar dan kafur, sedangkan di jaman nabi adam itu tidak ada. Demikian juga halnya fasilitas yang dijanjikan Allah di surga akhirat berbeda dengan fasilitas yang dirasakan Adam as beserta isterinya.

3. Perbedaan itu juga tampak dari keberadaan Iblis. Di jaman Nabi Adam, setan bisa berkeliaran memasuki jannah. Dan kemudian menggoda Adam dan Hawa, akan tetapi, di akhirat kelak, setan dijamin tidak bisa masuk jannah, karena. tempat mereka adalah neraka.

4. Perbedaan terakhir, jannah di akhirat diberikan sebagai ‘balasan’ atas segala amalan manusia di dunia ini. Sedangkan jannah nabi Adam adalah ‘fasilitas’ kehidupan dalam taman indah berisikan makanan serba berkecukupan dan pakaian yang disediakan untuk kebutuhan hidup Adam dan Hawa. (hal.154-155)

Komentar
Setelah membaca buku ini, saya mengakui kecermelangan cara berfikir Agus Mustofa dalam mengungkap hal-hal yang cukup mesterius, atau bahkan mungkin hal yang tabu dan ‘jarang’ menjadi pikiran kita untuk dibahas. Tapi, tetap saja saya masih memiliki komentar terhadap buku ini. Pertama, Dimanakah jannah Adam saat ini dan letak geografisnya? Apakah sudah fana? Karena hal ini akan semakin misterius ketika Agus Mustofa mensinyalir bahwa jannah Adam ada di bumi ini. Kedua, Mengapa Adam baru memiliki keturunan setelah ia dan isterinya ‘disuruh’ turun ke dunia? Bukankah kehidupan Adam dan Hawa di jannah memiliki waktu yang relatif cukup lama? Ketiga, Akan lebih maksimal jika Agus Mustofa memberikan sarana buat para pembaca, baik alamat email maupun berbentuk mailing list. Fungsinya, agar para pembaca yang memiliki beragam pertanyaan dapat menemukan jawaban dari penulis secara langsung, tanpa lama-lama ‘meraba’ untuk menemukan jawabannya. Sehingga buku seri Diskusi Tasawuf modern yang digagas Agus Mustofa ini semakin maksimal dan dapat dinikmati dengan baik.

Karena itu, saya merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini, karena menurut saya buku ini sangat layak dibaca, tidak hanya untuk kalangan para intelektual muslim dan para ustadz tapi juga untuk masyarakat umum.

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc, alumnus Universita Al-Azhar Kairo, Mesir, Fakultas Syari’ah Wal Qonun Jurusan Syari’ah Islamiyah (2007)

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution | Maret 15, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori